Menjadi Generasi Millenial? Raih 4 Keuntungan ini dalam Bidang Pendidikan

Assalamulaiakum, Hai Sobat! Kali ini kita akan membahas tentang generasi millennial dan apa saja sih kemudahan yang bisa didapatkan oleh generasi millennial?

Kita semua mengetahui dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan dalam dunia digital sangat pesat. Kemudahan dalam mengakses informasi dan teknologi sangat mudah dirasakan oleh semua kalangan usia mulai dari bayi hingga nenek-kakek, termasuk salah satunya yang beken adalah generasi millennial.  Buat yang belum tahu, apa sih generasi millennial? Hmmm kira-kira apa ya?

Generasi millennial adalah sebutan untuk mereka yang lahir diakhir tahun 1980 hingga 2000an. Eh, berarti ini eiyke masuk ya? 🙂 . Generasi millenial juga mereka yang lahir ketika zaman televisi sudah berwarna mejikuhibiniu macam pelangi, dan handphone juga sudah mulai tersebar dimasyarakat menggantikan telepon koin. Sebegitu mudahnya generasi millenial mengakses informasi melalui jaringan internet. Generasi millenial juga begitu cepat dan mudah mengakses berbagai info dan hiburan berbentuk video melalui situs YouTube. Ini juga tentunya patut diwaspadai ya, karenan banyaknya tayangan yang tak sesuai dengan pemirsanya.

Lalu, apa millenial hanya tentang kemudahan mengakses informasi dan hiburan saja? Bagaimana manfaatnya dalam bidang pendidikan? Eits, jangan salahperkembangan teknologi juga berimbas pada perkembangan didunia pendidikan. Apa saja itu? Yuk simak info berikut:

1.  Kemudahan dalam membuat Catatan.

mindmap.png

Mind Mapping. Sumber: Mindmeister.com

Apa kalian termasuk seri generasi yang gemar mengoleksi berbagai warna pena untuk membuat catatan cantik? Kalau iya, mungkin anda perlu beralih menggunakan teknologi untuk membuat catatan pelajaran atau catatan kantor. Manfaatkan software Microsoft Word atau Microsoft One Note. Jika kalian penyuka Mind Map, manfaatkan Mind Manager untuk membuat catatan berupa mind map. Jangan lupa tambahkan gambar dan banyak warna agar catatanmu lebih menarik. Kini kalian bisa membuat catatan dimana saja dan kapan saja tanpa repot membawa buku.

2.  Mencari info beasiswa semudah melihat status sosial media

Maraknya sosial media tidak hanya dimanfaatkan oleh pribadi, tetapi juga perusahaan untuk membuat halaman yang bisa menghubungkan mereka dengan netizen diluar sana. Tidak sedikit perusahaan yang menawarkan beasiswa dan menginfokannya di halaman sosial media mereka. Manfaatkan kemudahan ini untuk menggali informasi beasiswa sebanyak-banyaknya ya. Tiada lagi deh acara cari informasi beasiswa melalui koran.

3. Bertanya tentang pelajaran yang sulit semudah menggerakkan jari. 

brainly

Aplikasi Brainly. Sumber: Brainly.co.id

Hai generasi pelajar millenial, apa kalian mengenal Brainly? Wah, sayang sekali jika kalian tidak mengenal aplikasi tersebut. Brainly adalah aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk bertanya pelajaran sulit. Nah sekarang bertanya pelajaran tidak hanya pada gurumu saja. Menyenangkan bukan?

4. Mendatangkan guru les semudah menyetuhkan jari-jari di layar ponsel

ruangguru

Ruangguru. Sumber : Ruangguru.com

Para generasi millenial, apa sudah mendengar tentang Ruangguru? Ruangguru adalah salah satu startup layanan penyedia guru les. Kalian bisa belajar secara online atau mendatangkan guru belajar privat kerumah. Jangan lewatkan kemudahan ini ya!

Nah, itu dia 4 kemudahan perkembangan teknologi dalam pendidikan bagi para millenial. Kalian sebagai para millenial juga harus memanfaatkannya. Selamat belajar semuanya!

Advertisements

Berpamitan dengan TK Twinkle: Sayonara Anak-anak manis

“Anak-anak selalu jadi orang yang mengingat kita dengan tulus, karena itu berilah kesan yang baik saat bersama mereka”-KataMutiara

IMG-20180930-WA0000

Saya dan salah satu siswa penelitian

Masih sisi lain dari cerita bagaimana perjalanan saya menjadi asisten penelitian dosen. Ah, terlalu banyak yang menjadi cerita jika kita berhubungan dengan anak-anak manis ini. Bagaimana tidak, tingkah mereka begitu lucu, pintar dengan menjawab pertanyaan, dan selalu heboh dengan kedatangan kita. Sweet deh!

Dengan latar belakang cerita di TK Twinkle, sebuah TK yang rupanya cukup mahsyur di daerah Ketintang Surabaya. Pertama kali memasuki sekolah ini, kesan minimalis tampak terlihat, meskipun dengan lahan yang tidak terlalu luas, mereka memberikan fasilitas yang baik untuk anak didik mereka. Kolam renang, prosotan, jungkat-jungkit, ruangan full AC, dan sederet fasilitas lainnya yang cukup untuk anak-anak bermain sekaligus belajar. Belajar di TK Twinkle, anak-anak juga dibekali dengan bilingual skill, dijamin pandai cas cis cus bahasa Inggris deh.

Oke, lanjut lagi ceritanya. Dalam penelitian, selain memerlukan kelas eksperimen, juga diperlukan kelas kontrol sebagai pembanding dengan kondisi tanpa dikenai treatment. Dari beberapa TK yang masuk list kami, munculah nama TK Twinkle yang dianggap memiliki karakteristik siswa yang sepadan dengan kelas eksperimen kami di Labschool Unesa.  Itulah akhirnya, pertimbangan kami sebagai tim peneliti memakai Twinkle tersebut.

Ada beberapa kegiatan yang akan kami lakukan di TK Twinkle, yaitu Pre test dan Post test. Sebagai kelas kontrol tentu saja, di TK ini kami tidak memberikan treatment lesson.  Dengan siswa yang berjumlah tak banyak, tentu saja kami mudah menghapal nama-nama mereka dan menjadi dekat satu persatu anak.

Menghadapi siswa yang begitu antusias dengan adanya orang baru, maka kami pun menjadi semangat pula. Ada beberapa kejadian yang membuat kami selalu ingat akan mereka, yaitu momen dimana ketika kami datang ke sekolah mereka, dari kejauhan sudah nampak mereka yang melambaikan tangan, bahkan ketika kami mulai memanggil mereka satu per satu untuk melakukan tes, mereka bahkan berebut ingin duluan dipanggil. Menyenangkan bukan?

Baca juga: Bikin media belajar sendiri? Siapa takut!

Sayang sekali, setelah melakukan serangkaian tes literasi kepada mereka, udah saatnya nih kami berpamitan. Meski tak langsung berpamitan satu persatu pada mereka, melihat wajah mereka saja kami sudah cukup sedih. Kami berpamitan pada Kepala Sekolah (ini yang lupa ga kefoto!) dan beberapa guru, yang paling sedih justru ketika dadah-dadah kepada anak-anak. Sayang sekali mereka masih pelajaran ketika kami berpamitan. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi ya!

IMG-20180930-WA0009

Sesama pipi gembul

IMG-20180930-WA0005

Kira-kira si anak lagi mikir apa ya? hehehe

Bikin Media Belajar Sendiri? Siapa Takut!

Judul lebay dan alay ini berawal dari dosen saya. hehehe… Beliau selalu peduli dengan anak usia dini yang menjadi fokus penelitiannya. Ketika beliau mengajak saya untuk bergabung menjadi tim penelitiannya, saya sumringah dan tentu saja galau. Kenapa pakai galau? karena gimana dengan my little explorer ya? Alhamdulillah, begitu ku utarakan kesulitanku, beliau dengan semangat memperbolehkanku membawa Royyan ketika penelitian. Toh juga, beliau akan membawa anaknya. Hitung-hitung kami adalah ibu rumah tangga yang berkarya untuk pendidikan. Halah, apa aja sih…..

Membawa Royyan dalam penelitian yang juga membahas anak usia dini (Royyan usia 3th) tentu saja Ibu Dosen ini sedikit-sedikit melihat bagaimana Royyan belajar dan aku sebagai ibu memfasilitasi belajarnya. Beliau melihat Royyan sebagai anak yang cepat belajar dan tertarik terhadap segala benda.

Disuatu ketika, ada benda yang menarik perhatian Royyan, yaitu berupa wayang yang dilukis sederhana dengan spidol dan diwarnai krayon. Wayang tersebut dilapisi laminating agar dapat berdiri tegak, dan tak tampak ada sesuatu yang menarik dari wayang kulit yang sudah terkenal. Lalu apa yang membuat wayang tersebut istimewa di mata Royyan? Itu karena di wayang tersebut menampakkan dua sisi emosi anak. Satu sisi menggambarkan emosi bahagia, satu lagi menampakkan wajah anak yang menangis. Melihat Royyan yang begitu antusias dengan wayang itu, langsung aja bu Dosen memintaku untuk membuatkannya untuk Royyan (dengan dasar bahwa saya adalah alumni Teknologi Pendidikan, perancang media pembelajaran) dengan kata HARUS. Glek, gimana mau buatin Royyan wayang, orang saya kalau ngegambar aja ga jelas rupanya. hahahahaha… Dan apa selanjutnya? saya tidak pernah membuatkannya wayang itu sampai sekarang.

Baca juga: Belajar menjadi peneliti part 2: Penelitian Literasi Anak Usia Dini

Lalu cerita medianya dimana? hehe…. Dari situ memang akhirnya saya kepikiran terus, gimana nih ibunya lulusan Teknologi Pendidikan yang notabene melahirkan para pembuat media, tapi gak bisa bikin media untuk anak sendiri. Saya benar-benar tak ahli menggambar. Namun saya tak kalah akal, prinsip saya harus ada media belajar Royyan yang saya sesuaikan dengan kebutuhannya.

Merancang dan Melahirkan Media

Dari situlah saya mencari berbagai referensi media yang DIY, dan mudah untuk dibuat. Maklum sajalah, saya tidak pandai gambar. Jadi pakai gambar yang simpel namun penuh dengan pelajaran. Massuuuukkk… 😀

Hasil referensi saya merujuk pada sebuah akun di instagram (yang tidak dapat saya sebutkan) mebuat berbagai macam printable learning activities. Oke saya siap! Berbekal pengalaman seadanya, saya membuat PLA itu. Tentu saja, saya modifikasi dan sesuaikan dengan tingkat belajar Royyan. Tak lupa saya tambahkan dasar teori dari Permendiknas PAUD. Ke-TP-an kan walau hanya Ibu Rumah Tangga biasa?

Saat ini PLA itu masih tahap pengembangan, karena saya akan beri intipannya saja dulu ya. Untuk lebih lengkapnya akan saya taruh di www.skulaedu.net.

Slide4

Seri Persamaan dan Perbedaan Bentuk. Copyright Skulaedu

Sederhana ya? Hehe, Insyaallah bermanfaat bagi anak usia dini yang masih belajar. NAntikan versi fullnya ya di blog skulaedu.

Belajar menjadi Peneliti: Part 2. Penelitian Literasi Anak Usia Dini

Assalamualaikum semua, senang rasanya bisa kembali berbagi cerita disela-sela beberapa kegiatan yang cukup menyita waktu. Bukan sok sibuk sih, tapi benar adanya menyita perhatian agar bisa tetap fokus menjalankan tugas disambi kegiatan les dan bermain bersama Royyan.

Syukur Alhamdulillah, tahun 2018 ini saya masih dipercaya untuk mengasisteni penelitian ini. Part 1 nya bisa dibaca disini ya. Part 1.

Ini adalah tahun terakhir untuk penelitian literasi ini, karena tahun depan dosen saya yang memerlukan penelitian ini sudah harus masuk pada meja sidang dan lulus untuk menyandang gelar doktoral dari Universiteit Twente, Belanda. Tak banyak yang berubah dari penelitian tahun lalu ke tahun ini. Hanya saja, ada yang perlu disesuai dengan apa yang diinginkan supervisor peneliti dari universitas tersebut. Apa yang diubah seperti jumlah lesson, jumlah tes, bentuk tes, dan sebagainya. Alhamdulillahnya adalah saya bisa mempelajari berbagai macam bentuk tes internasional untuk anak usia dini. Seru kan?

Apa saja yang berubah dari penelitian tahun ini? 

yang pertama adalah jumlah lessonnya. Materinya tetap sama, hanya saja berkurang temanya. Dari 6 tema yang dulu disajikan, kami mengeliminasi 2 tema, sehingga ada 4 tema tersisa yang harus kami persiapkan  medianya. Tema-tema tersebut adalah

  1. My Name : Kegiatannya menebali kartu nama yang menggunakan trace font (garis putus-putus gitu).
  2. My Body : Kegiatannya adalah mengukur berat badan dan tinggi badan. Siswanya senang banget ketika mereka harus antri satu persatu mengukur berat dan tinggi badan mereka. Kelas jadii hebooooohhhh!
  3. My Friend : Kegiatannya nih menempel nama mereka yag kami tulis dikertas dan digunting menyerupai daun. Menempelnya di papan yang telah kami sulap bagai taman bunga dengan huruf alpabet disetiap bunganya. Siswa diajak untuk mengenali nama sendiri dan teman-temannya lewat kegiatan tempel menempel.
  4. My Birthday : Lesson terakhir ini awalnya agak kacau, kami bertiga salah paham tentang siapa yang harusnya membeli bahan. Wah, hampur saja lesson ini gagal di satu kelas kemudian kami siasati dengan berbagai cara. Sedikit pengobat kami adalah suksesnya di kelas kedua yang lebih terencana. Roti-roti yang kami sajikan untuk anak-anaknya nyaris ludes hanya menyisakan beberapa potong saja. Ohya, di lesson terakhir ini kami mengajarkan siswa untuk mengetahui tanggal lahir mereka lewat kegiatan menempel lilin di papan cupcake!

Dari Pre test tidak ada perubahan dari tahun lalu, penambahan test ada di post test. Biasanya kami hanya menilai 2 test, kali ini kami menilai siswa melalui 5 rangkaian test yang terbagi dari 3 tipe, Story Telling, Digital Literasy, dan Literasy. Dan juga saya baru belajar mengenai test pra baca (ternyata ada! dan skala internasional) yang ternyata lebih penting dari tes calistung. Beberapa test yang kami gunakan salah satunya adalah GRTR (Get Ready To Read), yang berisi 20 pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa.

Serangkaian post test masih kami jalani saat ini di kelas eksperimen maupun kelas kontrol yang ada. Kapan-kapan kami sambung yang part 3 ya!

Sebelum diakhiri, klik www.skulaedu.net ya untuk beragam artikel dan informasi bidang pendidikan.

Angkasa -Prolog

Apa satuan yang bisa kamu gunakan untuk menggambarkan rasa cinta kepada orang lain? Tentu bukan kilogram. Ohya, pernahkah mendengar lagu yang menceritakan cinta sedalam lautan, atau setinggi gunung-gunung yang berdiri kokoh?

Bagiku, mencintai seseorang bisa sangat dalam. Namun, mencintai tak bisa ditebak. Tak ada warna yang selalu sama. Oh oke, bagaimana kalau kita gambarkan dalam bentuk angkasa? Ah, lalu mengapa angkasa yang berwarna hitam? Apa cinta begitu kelam sehingga harus berwarna hitam? Tentu tidak, jangan pernah melihat  warna hitam pada langit angkasa, tapi lihatlah kita tidak pernah tahu akan batasnya. Sama seperti mencintai, tidak pernah tahu akan batasnya.

Ini tentang kisahku, yang berangkat dari perjalanan cinta sederhana. Bukan tentang cinta yang mendayu di masa remaja, tapi cinta selalu akan kamu dengar hingga saatnya tiba.

Belajar Menjadi Peneliti part 1 : Meneliti Kemampuan Literasi Sejak Dini

Hello, setelah melewati sekian purnama untuk menyelesaikan beberapa project yang ku ambil sebagai seorang freelance, akhirnya memiliki kesempatan kembali untuk berbagi cerita di blog ini. 😀

Kali ini yang akan menjadi cerita adalah sebuah pengalaman menjadi asisten peneliti. Ya, cita-cita awalku adalah menjadi seorang dosen, tapi sampai sekarang memang belum kesampaian, doakan terwujud di kemudian hari ya! 🙂 Karena cita-cita inilah saya banyak mendekati para dosen kuliah untuk menimba ilmu yang lebih dari pada teman yang lain, menawarkan diri untuk membantu tugas-tugas mereka. Ini manjur untuk kalian yang ingin mendapatkan ilmu berlebih selama kuliah loh.

Kembali lagi pada cerita tentang asisten penelitian ya, selama beberapa bulan terakhir, saya mendapatkan 2 job asisten penelitian yang memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya karena sama-sama dari bidang penelitian pendidikan, perbedaannya adalah satunya akan membahas mengenai literasi dan satunya agi lebih pada bidang psikologi yaitu ekspresi wajah.

Yups, mari kita bahas satu persatu dari kedua penelitian ini ya.

Literasi pada Anak Usia Dini

Job asisten penelitian pertama ini datang dari dosen saya sendiri yang saat ini menempuh PhD nya di negeri kincir angin. Meskipun bukan berstatus sebagai mahasiswanya lagi, komunikasi tetap terjalin harmonis (tetep aje merasa mahasiswanya kalau lagi diomelin beliau, pis!). Iseng awalnya saya menawarkan diri untuk membantu apa saja yang beliau butuhkan dalam kegiatan kuliahnya (dulu sering bantuin ngajar, keterusan minta jatah terus ke beliau, hihihihi). Ini penting banget nih, untuk kalian yang ingin menambah jaringan, atau ilmu, SERING-SERINGLAH MENAWARKAN DIRI, tentu saja menawarkan diri dalam sisi positif seperti membantu mengajar, meneliti, atau apalah. Saya dulu pernah nih, menawarkan bantuan asisten dosen, padahal tugasnya cuma klik klik presentasi doang…. hahaha,tapi udah bangga banget karena ikutan seminar beliau kemanapun, pengalamannya seru banget.

anak-belajarrr

Dari keisengan saya menawarkan bantuan itu, tak dikira ternyata mendapat respon yang positif. Saya menerima sebuah pesan singkat via Whatsapp yang isinya mengajak saya untuk bergabung dalam penelitian PhD nya di sebuah Taman Kanak-kanak di Surabaya. Tentu saja, saya……. terima dong! hahahaha… kesempatan langka yang tidak akan disia-siakan untuk belajar lebih lagi, meskipun saat ini saya sudah tidak mengenyam bangku kuliah (tetep ngeyel mau kuliah S2, :p)

Kontrak menjadi asisten peneliti saya mulai di bulan agustus 2017. Kami bertemu untuk membahas kegiatan penelitian ini langsung di TKP, sebuah sekolah miliki universitas di Surabaya. Ternyata saya tidak sendirian, ada seorang lagi rekan yang saya sudah kenal sebelumnya di acara komunitas pendidikan. Beliau adalah seorang owner bimbingan belajar khusus matematika di Surabaya. Wah, klop nih! Bisa belajar banyak saya dari beliau berdua. Yaaaa apalah saya yang hanya butiran debu.

Kami bertiga kemudian menjalani beberapa pertemuan untuk membagi tugas. Semua file-file yang penting kemudian di kirim via email. Dan, kelebihan dosen saya satu ini adalah selalu memberikan file dalam bentuk bahasa Inggris! yes, beliau tak pernah melewatkan kesempatan agar kami selalu belajar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. Satu-satu file yang telah dikirim kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia agar memudahkan kami untuk memahami alur penelitian dan mempersiapkan media yang ada. Meski telah memiliki pengetahuan selama perkuliahan, tetap saja ini menjadi saat aplikasi ilmu yang tidak mudah.

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yang pertama pre test, lalu pemberian treatment, dan diakhiri dengan post test. Semua sudah dirancang dan dipersiapkan dengan matang, namun tentu saja, rencana belum selalu berhasil 100% dilapangan. Mengingat subjek penelitian kami adalah anak usia dini tentu mengaturnya tak semudah berbicara pada anak SMP, SMA, dan Kuliah. Anak usia dini lebih rentang dengan kebosanan, capek, engga ngerti, dan segala macam kelucuan tingkah mereka. Pernah disuatu ketika tes yang kami berikan banyak yang bolong tidak dijawab hanya karena capek, atau melihat temannya yang lain bermain dan kemudian dia tergoda main juga. hehehe… Tentunya kami tidak boleh memaksa, apalagi marah, sehingga kami pun menyediakan stok kesabaran sebanyak mungkin.

Dalam beberapa bulan ke depan, kegiatan penelitian dan pemberian treatment sudah terjadwal dengan baik, demikian juga dengan pre test yang telah dilakukan dan post test yang segera menanti di akhir penelitian. Beberapa kegiatan sudah disiapkan berikut dengn medianya, ada tracing huruf, menempelkan huruf menjadi kesatuan nama, bercerita tentang merencanakan ulang tahun, bermain bola nama, berbagi mainan dengan teman, mencari harta karun, dan sederet kegiatan permainan lain yang benar-benar tak kusangka itu semua dapat melatih kemampuan literasi pada anak. Fyi, kemampuan literasi ga hanya berkutat pada baca dan tulis ya, tapi juga kemampuan bercerita, cmiiw.

11 Manfaat Pendidikan anak Usia Dini (PAUD) Bagi Anak

Tahapan-tahapan telah kami lalui, tibalah saatnya untuk post test. Namun, kabar buruknya datang, Sang Dosen tidak dapat turut menemani kegiatan post test karena harus kembali ke Belanda untuk meneruskan kuliahnya. Semua urusan penelitian kemudian dihibahkan pada kami berdua. What? Oke, pasti bisa! (berdoa dalam hati). Setelah membereskan file-file yang akan dipersiapkan untuk keperluan post test, mulailah kami berdua menyusun strategi untuk post test, mulai dari medianya, lembar penilaiannya, hingga camilan yang cocok sebagai hadiah untuk anak-anak seusai mengerjakan post test. Wah, selesai melakukan post test, data kemudian kami proses dan kirim menggunakan email berikut foto-foto dokumentasinya. Tak lupa, sebelum berpamitan meninggalkan tempat penelitian, kami memberikan hadiah kepada adik-adik untuk belajar.

Itulah teman-teman, sedikit pengalaman menjadi asisten peneliti. Nantikan part 2 nya menjadi asisten peneliti berikutnya. Untuk artikel mengenai literasi untuk pendidikan anak usia dini di blog Skulaedu.net.

Terimakasih!

Sumber gambar: http://www.google.com

Resensi Novel : Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991

Hello!

Tulisan ini sebagai tanda selamat datang kembali pada Laptopku yang baru sembuh… Sehat-sehat ya, jangan sampai ganti merk dulu.. hehe…

Menyelesaikan dengan cepat bacaan novel kedua dari 3 novel yang berkisah tentang Dilan dan Milea. Kesannya apa? Nyesel Berat! hah?

Nyesel banget udah baca karena tidak happy ending. Gak suka harus sedih-sedihan karena Dilan dan Milea harus pisah hanya karena perkara yang tidak cukup serius. Sebel karena dua-duanya masih menunggu, tapi membiarkan waktu memisahkan mereka. Namun, sudahlah… Dilan dan Milea tahu, Cinta tak harus memiliki. “Kamunya ada di bumi saja aku sudah senang..” Itulah kutipan kata dari Dilan.

dilan 1991

Dari sampul buku saja sudah menggambarkan bagaimana kisah yang bercerita didalamnya. Pasti mengandung lebih banyak dramanya. Dibuku kedua ini, selayaknya dibag menjadi 2, setengah buku pertama kamu akan disuguhi drama manis tentang perjalanan cinta Dilan dan Miles yang meskipun akhirnya harus beda sekolah karena Dilan di keluarkan dari sekolah. Sedangkan pada setengah buku berikutnya akan membahas drama kepedihan dari cerita putus keduanya.

Selain menyuguhkan drama cinta kedua, di buku kedua dari Seri Dilan dan Milea ini juga banyak mengisahkan kenakalan Dilan bersama geng motornya, itu pula salah satu yang menyebabkan keduanya harus putus dalam percintaan. Yap, Milea yang tidak ingin Dilan terlibat lebih jauh dengan geng motornya, dan Dilan tak ingin dirinya terlalu terkekang oleh Milea. Sebenarnya permasalahan yang cukup simpel, namun menjadi pelik karena keduanya justru menjadi diam dan tidak menyelesaikan masalah. Itulah yang kemudian menjadi rasa gemas pada bagian novel bagian kedua ini.

Dalam Dilan 1991 ini, ada beberapa tokoh baru yang muncul, seperti Yugo, sepupu Milea, Risa, saudara jauh dari Dilan yang datang ke Bandung, Ayah Dilan, yang tergambarkan galak dan tegas tapi sangat sayang kepada anak-anaknya termasuk pada Milea yang dianggap sebagai calon menantu.

Dilan mengalami banyak permasalahan pada novel kedua ini, seperti dikeroyok leh gerombolan orang yang disebutnya sebagai agen CIA, tertangkap polisi karena kedapatan akan menyerang seseorang dan membawa pistol miliki ayahnya! Lalu ada pula kisah tentang rasa kehilangan Dilan terhadap salah satu temannya yang meninggal, juga karena dikeroyok orang tak dikenal, yaitu Akew. Hal-hal itu yang membuat Milea nampaknya sangat khawatir pada Dilan, namun sayangnya kekhawatiran itu justru menjauhkan dari Dilan.

Petualangan Dilan pun berlanjut seusai masa SMA, Dilan pergi ke Jogjakarta untuk mendaftar kuliah dan menenangkan diri, sedang Milea lolos umptn di Jakarta. Semakin jauh terlihat, tapi yakin kedua hati mereka masih memanggil satu sama lain. Dimana? Rindu… Hingga tanpa terasa Bandung menjadi hanya kisah bagi mereka. Dan satu sama lain pun menemukan pendamping masing-masing, tapi selalu masih menyimpan rindu keduanya.

a7fc93de863aef7cd520cb4778a11fca

Jadi tidak sabar menantikan visualisasi dari Dilan 1991. Pasti lebih banyak menguras emosi.  Finally, kisah yang apik disajikan, bahasanya unik khas Dilan, kisah yang diangkat sebenarnya sederhana namun dapat diramu menjadi novel best seller. Sukses Ayah Pidi Baiq!